PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
RATIONAL EMOTIVE THERAPY
Istilah Rational Emotive Therapy sukar diganti
dengan istilah bahasa Indonesia yang mengena; paling – paling dapat
dideskripsikan dengan mengatakan: corak konseling yang menekankan kebersamaan
dan interaksi antara berpikir dan akal sehat (rational thinking), berperasaan (emoting), dan berperilaku (acting),
serta berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperilaku
dan berperasaan. Maka, orang yang mengalami gangguan dalam alam perasaannya,
harus dibantu untuk meninjau kembali caranya berpikir dan memanfaatkan akal
sehat.
Pelopor dan
sekaligus promotor utama corak konseling ini adalah “Albert Ellis” (1913-2007),
yang telah menerbitkan banyak karangan dan buku antara lain buku yang berjudul Reason and Emotion in Psychotherapy (1962),
A
new Guide to Rational Living (1975), serta karangan yang berjudul The Rational-Emotive Approach to Counseling dalam buku Burks Theories of Counseling (1979). Menurut pengakuan Ellis sendiri,
corak konseling Rational-Emotive Therapy (disingkat
RET) berasal dari aliran pendekatan Kognitif-Behavioristik. Teorinya mempunyai
kemiripan dengan terapi kognitif Aaron Beck (yang dirumuskan secara terpisah
pada waktu hampir bersamaan) dan terapi mood baru David Burns. Para ahli
psikologis klinis sering mengkhususkan diri dalam bidang konseling perkawinan
dan keluarga. Pada mulanya Ellis mendapat pendidikan dalam pengalaman
prakteknya ia merasa kurang meyakini psikoanalisa yang dianggap ortodoks. Oleh
karena itu berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya dalam teori belajar
behavioral, kemudian ia mengembangkan suatu pendekatan sendiri yang disebut Rational Emotive Therapy (RET) atau
terapi rasional emotif.
B.
KONSEP
POKOK
Ellis
memandang bahwa manusia itu bersifat rasional dan juga irasional orang
berperilaku dalam cara-cara tertentu karena ia percaya bahwa ia harus bertindak
dalam cara itu. Orang mempunyai derajat yang tinggi dalam sugestibilitas dan
emosionalitas yang negatif (seperti kecemasan, rasa berdosa, permusuhan, dan
sebagainya). Masalah-masalah emosional terletak dalam berpikir yang tidak
logis. Dengan mengoptimalkan kekuatan intelektualnya, seseorang dapat
membebankan dirinya dari gangguan emosional. Para penganut teori RET percaya
bahwa tidak ada orang yang disalahkan dalam segala sesuatu yang dilakukannya,
tetapi setiap orang bertanggung jawab akan semua perilakunya. Ellis percaya
bahwa manusia mempnyai kepedulian diri dan kepedulian sosial. Bagaimanapun juga, RET juga
menganggap manusia “rasional dan irasional, masuk akal sekaligus gila, menurut
Ellis dualitas tersebut tertanam secara biologis dan berkelanjutan sampai cara
berpikir yang baru dipelajari.(Dryden, 1994)(dikutip dari buku: Samuel T
Gladding, Konseling Profesi yang
menyeluruh, 2012 Jakarta: indeks. Hal 266). Pikiran irasional, atau seperti yang didefinisikan oleh Ellis, keyakinan irasional (iBs), melibatkan
pembentukan pikiran yang mengganggu dan menjengkelkan.
Unsur
pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua
proses yang terpisah. Menurut Ellis, pikiran dan emosi merupakan dua hal yang
saling tumpang tindih, dan dalam prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi
disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan
dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intrinsik.
Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu
dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata
lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengaruhi pikiran.
Pikiran seseorang dapat menjadi emosinya, dan emosi dalam keadaan tertentu
dapat berubah menjadi pikiran.
Pandangan
yang penting dari teori rasional-emotif adalah konsep bahwa banyak
perilakuemosional individu yang berpangkal pada “selftalk” atau “omong diri”
atau internalisasi kalimat-kalimat, yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya
sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif. Adanya orang-orang
seperti itu, menurut Ellis adalah karena:
a) Terlalu
bodoh untuk berpikir secara jelas.
b) Orangnya
cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berpikir secara jelas dalam hubungannya
dengan keadaan emosi.
c) Orangnya
cerdas cudan cukup berpengetahuan tetapi terlalu neurotik untuk menggunakan
kecerdasan dan pengetahuan secara memadai.
Meskipun
Ellis tidak membahas tahap perkembangan individu, dia berpendapat bahwa
anak-anak lebih gampang terkena pengaruh dari luar dan memiliki cara berpikir
yang tidak rasional daripada orang dewasa. Pada dasarnya, dia meyakini bahwa
manusia itu naif, mudah disugesti, dan mudah terusik. Secara keseluruhan, orang
mempunyai kemampuan di dalam dirinya sendiri untuk mengontrol pikiran,
perasaan, dan tindakan, teapi perta,a-tama dia harus menyadari apa yang mereka
katakan pada diri sendiri (bicara pada
diri sendiri) untuk mendapatkan komando atas kehidupannya. Ini adalah
masalah kesadaran pribadi. Pikiran tidak sadar tidak termasuk di dalam konsep
Ellis tentang sifat manusia. Lebih jauh lagi, Ellis percaya bahwa adalah suatu
kesalahan, jika orang mengevaluasi atau menilai diri sendiri melebihi gagasan
bahwa semua orang adalah makhluk yang bisa berbuat salah.
Pandangan
pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep
kunci teori Albert Ellis. Salah satu teori utama mengenai kepribadian yang
dikemukakan oleh Albert Elis dan para penganut Rational Emotive Therapy adalah
apa yang disebut dengan konsep atau teori A-B-C-D-E. Teori ini adalah sentral
dari teori dan praktek RET. Berikut adalah pemaparan singkat tentang teori ini:
Antecedent event, Activity, or Action, or
Agent (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu.
Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang
lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi
calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan,
nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan
seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau
rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan
yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk
akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak
rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak
masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
Emotional consequence (C) merupakan
konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan
senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A).
Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh
beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang
iB.
Selain
itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus
melawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa
menikmati dampak-dampak (effects; E) psikologis positif dari
keyakinan-keyakinan yang rasional.
Sebagai
contoh, “orang depresi merasa sedih dan kesepian karena dia keliru berpikir
bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir”. Padahal, penampilan orang
depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas
seorang terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami
orang depresi, melainkan menyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri
sendiri.
Walaupun
tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama
keyakinan-keyakinan irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan
tersebut adalah hasil “pengondisian filosofis”, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang
muncul secara otomatis, persis seperti kebiasaan kita yang langsung mengangkat
dan menjawab telepon setelah mendengarnya berdering.
Konsep
teorik A-B-C-D-E mengenai kepribadian yang dikemukakan tersebut merupakan
konsep utama baik dalam teori maupun dalam praktek RET serta mempunyai kaitan
yang erat dengan asumsi-asumsi filosofis tentang hakikat manusia serta
pandangan mengenai kepribadiannya. Kepribadian menurut Ellis pada dasarnya terdiri
atas kepercayaan, konstruk, atau sikap. Apabila seseorang individu mempunyai
suatu reaksi emosional pada titik C (konsekuensi emosional), setelah terjadi
kegiatan atau peristiwa atau pengalaman, hal itu menyebabkan suatu sistem
kepercayaan (pada titik B). A tidak menyebabkan C tetapi sistem kepercayaan
yang menjadi A menyebabkan C.
C.
PROSES
KONSELING
Tugas
konselor menurut Ellis adalah membantu individu yang tidak bahagia dan
menghadapi hambatan, untuk menunjukkan bahwa:
a) Kesulitannya
disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak logis.
b) Usaha
memperbaikinya adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. Konselor yang
efektif akan membantu klien untuk mengubah pikiran, perasaan, dan perilaku yang
tidak logis.
Tujuan
utama terapi rasional-emotif adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi
diri mereka merupakan sumber gangguan emosionalnya. Kemudian membantu klien
agar memperbaiki cara berpikir, merasa, dan berperilaku, sehingga ia tidak lagi
mengalami gangguan emosional di masa yang akan datang.
Melalui
proses ini, RET membantu orang belajar bagaimana mengenali suatu anatomi emosional yaitu mempelajari
bagaimana perasaan terkait dengan pikiran. Pikiran mengenai suatu pengalaman
dapat dikarakteristikan dalam empat cara: positif,
negatif, netral, dan kombinasi.
D.
TUJUAN
KONSELING RASIONAL-EMOTIF
Berdasarkan
pandangan dan asumsi tentang hakekat manusia dan kepribadiannya serta
konsep-konsep teoritik dan RET, tujuan utama konseling rasional-emotif adalah
sebagai berikut:
1) Memperbaiki
dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan
klien yang irasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri,
meningkatkan self actualization-nya seoptimal mungkin melalui perilaku kognitif
dan afektif yang positif.
2) Menghilangkan
gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti: rasa takut, rasa
bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, rasa was-was, rasa marah, sebagai konseling
dari cara berpikir dan sistem keyakinan yang keliru dengan jalan melatih dan
mengajar klien untuk menghadap kenyataan-kenyataan hidup secara rasional dan
membangkitkan kepercayaan, nilai-nilai dan kemampuan diri sendiri.
Tujuan
utama RET berfokus pada membantu orang untuk menyadari bahwa mereka dapat hidup
lebih rasional dan produktif. RET membantu klien agar berhenti membuat tuntutan
dan merasa kesal melalui “kekacauan”. Klien dalam RET dapat mengekspresikan
beberapa perasaan negatif, tetapi tujuan utamanya adalah membantu klien agar
tidak memberikan tanggapan emosional yang selayaknya terhadap suatu peristiwa
(Weinrach et al., 2001)(dikutip dari buku: Samuel T Gladding, Konseling Profesi yang Menyeluruh, 2012
Jakarta: Indeks. Hal 267).
Tujuan
lain dari RET adalah mebantu orang mengubah kebiasaan berpikir atau bertingkah
laku yang menghancurkan diri sendiri. Salah satu cara untuk melakukannya adalah
dengan mengajarkan model A-B-C-D-E dari
RET kepada klien:
A
berarti mengaktifkan pengalaman;
B
mewakili pendapat orang mengenai
pengalaman tersebut;
C
adalah reaksi emosional terhadap
B;
D adalah
menjauhkan pemikiran irasional, biasanya dengan bantuan konselor RET, dan
menggantikannya dengan
E pemikiran
yang efektif dan filosofi pribadi baru yang akan membantu klien mencapai
kepuasan hidup yang lebih besar (Ellis, 2008)(dikutip dari buku; dikutip dari
buku: Samuel T Gladding, Konseling
Profesi yang Menyeluruh, 2012 Jakarta: Indeks. Hal 267).
Secara
lebih khusus Ellis menyebutkan bahwa dengan terapi rasional-emotif akan
tercapai pribadi yang dikenal dengan:
1) Minat
kepada diri sendiri
2) Minat
sosial
3) Pengarahan
diri
4) Toleransi
terhadap pihak lain
5) Fleksibelitas
6) Menerima
ketidakpastian
7) Komitmen
terhadap sesuatu di luar dirinya
8) Berpikir
ilmiah
9) Penerimaan
diri
10) Berani
mengambil resiko
11) “non
utopianism” yaitu menerima kenyataan (Mohamad Surya, Teori-Teori Konseling, 2003 Bandung: Daftar Pustaka. Hal 21).
Sebagai
suatu bentuk hubungan yang bersifat membantu (helping relationship), terapi
rasional-emotif mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a. Aktif-direktif,
artinya bahwa dalam hubungan konseling atau terapeutik, terapis/konselor lebih
aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
b. Kognitif-eksperiensial,
artinya bahwa hubungan yang dibentuk harus berfokus pada aspek kognitif ari
klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
c. Emotif-eksperiensial,
artinya bahwa hubungan yang dibentuk juga harus melihat aspek emotif klien
dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar
akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
d. Behavioristik,
artinya bahwa hubungan yang dibentuk harus menyentuh dan mendorong terjadinya
perubahan peilaku dalam diri klien.
e. Kondisional,
artinya bahwa hubungan dalam terapi rasional emotif dilakukan dengan membuat
kondisi-kondisi tertentu terhadap klien melalui teknik kondisioning untuk
mencapai tujuan terapi konseling.
Konseling
rasional-emotif secara esensial pada dasarnya merupakan proses terapeutik
behaviorrral yang aktif-direktif serta mementingkan aspek kognitif, dengan
intensitas hubungan antara konselor dan klien agak kurang. Konseling
rasional-emotif juga merupakan suatu “proses edukatif”, sehingga peranan
konselor yang utama adalah mengajar klien mengenai cara-cara memahami dan
merubah diri. Albert Ellis memberikan gambaran tentang apa yang dapat dilakukan
oleh seseorang praktisi rasional-emotif yaitu:
a. Mengajak,
mendorong klien untuk menanggalkan ide-ide irasional yang mendasari gangguan
emosional dan perilaku.
b. Menantang
klien dengan berbagai ide yang valid dan rasional.
c. Menunjukkan
kepada klien azas ilogis dalam berpikirnya.
d. Menggunakan
analisi logis untuk mengurangi keyakinan-keyakinan irasional (irrational
beliefs) klien.
e. Menunjukkan
bahwa keyakinan-keyakinan irasional adalah “inoperative” dan bahwa hal ini
pasti senantiasa mengarahkan klien pada gangguan-gangguan behavioral dan
emosional.
f. Menggunakan
absurdity dan humor untuk menantang irasionalitas pemikiran klien.
g. Menjelaskan
kepada klien bagaimana ide-ide yang irasional ini dapat ditempatkan kembali
atau disubstitusikan kepada ide-ide rasional yang harus secara empirik
melatarbelakangi kehidupannya.
h. Mengajar
klien bagaimana mengalikasikan pendekatan-pendekatan ilmiah, obyektif dan logis
dalam berpikir dan selanjutnya melatih diri klien untuk mengobservasi dan
menghayati sendiri bahwa ide-ide irasional dan deduksi-deduksi hanya akan
membantu perkembangan perilaku dan perasaan-perasaan yang dapat menghambat
perkembangan dirinya.
E.
TEKNIK-TEKNIK
TERAPI
Terapi
rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif, afektif,
dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Berikut ini akan
dikemukakan beberapa macam teknik (Mohamad Surya, Teori-Teori Konseling, 2003 Bandung: Daftar Pustaka. Hal 23-25)
1. Teknik-Teknik
Emotif (afektif):
a. Teknik
Assertive Training, yaitu teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan
membiasakan klien untuk secara terus menerus menyesuaikan dirinya dengan
perilaku tertentu yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih
bersifat pendisiplinan diri klien.
b. Teknik
sosiodrama, yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang
menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu drama yang didramatisasikan
sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya seniri
secara lisan, tulisan ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis.
c. Teknik
“self-modelling” atau “diri sebagai model” yakni teknik yang digunakan untuk meminta
klien agar “berjani” atau mengadakan “komitmen” dengan konselor untuk
menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu. Dalam self-modelling ini klien
diminta untuk tetap setia pada janjinya dan secara terus menerus menghindarkan
dirinya dari perilaku negatif.
d. Teknik
imitasi, yaitu teknik yang digunakan dimana klien diminta untuk menirukan
secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan
menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.
2. Teknik-Teknik
Behavioristik
Dalam
banyak hal, konseling rasional-emotif banyak menggunakan teknik terapi
behavioral terutama dalam upaya memodifikasi perilaku-perilaku negatif dari
klien dengan mengubah akar-akar keyakinannya yang tak rasional dan tak logis.
Beberapa teknik yang tergolong behavioristik adalah:
a. Teknik
Reinforcement (penguatan), yakni teknik yang digunakan untuk mendorong klien
kearah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian
(reward) ataupun punishment (hukuman). Bila perilaku klien mengalami kemajuan
dalam arti positif, maka ia dipuji “baik” bila mundur dalam arti masih negatif,
maka dikatakan “tidak baik”. Teknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem
nilai dan keyakinan yang irasional pada klien dan menggantinya dengan sistem
nilai yang positif. Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan
menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan padanya.
b. Teknik
Social Modelling (pemodelan sosial), yakni teknik yang digunakan untuk
memberikan perilaku-perilaku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien
dapat hidup dalam suatu moel sosial yang diharapkan dengan cara imitasi
(peniruan), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dengan model sosial yang
dibuat itu. Dalam teknik ini, konselor mencoba mengamati bagaimana proses klien
mempersepsi, menyesuaikan dirinya dan menginternalisasi norma-norma dalam model
sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor atau terapis.
c. Teknik
Live Models (model dari kehidupan nyata), yang digunakan untuk menggambarkan
perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang
kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan
masalah-masalah.
3. Teknik-Teknik
Kognitif
Teknik-teknik
konseling atau terapi berdasarkan perkataan kognitif memegang peran utama dalam
konseling rasional-emotif. Teknik-teknik ini digunakan dengan maksud untuk
mengubah sistem keyakinan yang irasioal klien serta perilaku-perilakunya yang
negatif. Dengan teknik ini klien didorong dan dimodifikasi aspek kognitifnya agar
dapat berpikir dengan cara yang rasional dan logis sehingga klien dapat
bertindak atau berperilaku sesuai sistem nilai yang diharapkan baik terhadap
dirinya sendiri maupun terhadap lingkungannya.
Beberapa
teknik kognitif yang cukup dikenal adalah:
-
Home Work
Assignments (pemberian tugas rumah). Dalam teknik ini, klien diberikan
tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri serta menginternalisasikan
sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Dengan tugas
rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan
ide-ide serta perasaan-perasaan yang irasional dan ilogis dalam situasi-situasi
tertentu, mempraktekkan respons-respons tertentu, berkonfrontasi dengan
verbalisasi diri yang mendahului, mempelajari bahan-bahan tertentu yang
ditugaskan untuk mengubah aspek kognisinya yang keliru, mengadakan
latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Selanjutnya,
pelaksanaan Home Work Assignment yang diberikan konselor dilaporkan terhadap
klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor di kantor, disekolah,
atau ditempat lain. Teknik ini sebenarnya dimaksudkan untuk membina dan
mengembangkan sikap-sikap bertanggung jawab, kepercayaan diri sendiri serta
kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien serta mengurangi
ketergantungannya kepada konselor atau terapis.
-
Teknik
Assertive. Teknik ini digunakan untuk melatih keberanian klien dalam
mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui; role
playing atau bermain peran, rehearsal atau latihan, dan social modelling atau
meniru model-model sosial. John L. Shelton (1977) mengemukakan bahwa maksud
utama teknik Assertive Training adalah untuk:
a) Mendorong
kemampuan klien mengekspresikan seluruh hal yang berhubungan dengan emosinya,
b) Membangkitkan
kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau
memusihi hak asasi orang lain,
c) Mendorong
kepercayaan kepada kemampuan diri sendiri,
d) Meningkatkan
kemampuan untuk memilih perilaku-perilaku assertive yang cocok untuk dirinya
sendiri (Mohamad Surya, Teori-Teori
Konseling, 2003 Bandung: Daftar Pustaka. Hal 25-26).
Dalam
mengaplikasi berbagai teknik konseling rasional-emotif, Albert Ellis
menganjurkan untuk menggunakan den menggabungkan beberapa teknik tertentu
sesuai dengan permasalahn yang dihadapi klien. Hanya Ellis menyarankan agar
teknik Home Work Assignment perlu digunakan sebagai syarat utama untuk sesuatu
terapi atau konseling yang tuntas.
Selanjutnya
dikatakan oleh Ellis bahwa meskipun pada mulanya terapi rasional-emotif
dimaksudkan untuk mendorong individu yang mengalami gangguan, akan tetapi dapat
pula digunakan untuk membantu orang dalam mengurangi kecemasan dan permusuhan
serta berguna untuk membantu mewujudkan diri individu. Bagi para konselor sekolah,
terapi rasional-emotif akan sangat membantu krena pada dasarnya terapi
rasional-emotif lebih menggunakan model edukatif daripada model psikodinamik
atau model demik. Dengan demikian para konselor sekolah dapat menggunakannya
bagi siswa-siswa normal di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
§
Surya. Mohamad, Teori-Teori Konseling, 2003 Bandung:
Daftar Pustaka
§
Winkel.WS, Bimbingan dan Konseling di Institusi
Pendidikan, 1997, Jakarta: PT. Grasindo
§
Gladding. T Samuel, Konseling Profesi yang menyeluruh, 2012
Jakarta: indeks
Best 777 Casino Las Vegas NV Reviews and Ratings 2021
BalasHapus777 Casino is 태백 출장마사지 an offshoot of the Las Vegas Strip 포천 출장마사지 that has since added 부산광역 출장안마 to its growing footprint. In the 김해 출장마사지 last year, there was more 원주 출장샵 than 3.2 million users and has Rating: 3.7 · 5,362 votes