Senin, 26 Januari 2015

TEORI PENDEKATAN BK RATIONAL EMOTIVE THERAPY

PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN RATIONAL EMOTIVE THERAPY
Istilah Rational Emotive Therapy sukar diganti dengan istilah bahasa Indonesia yang mengena; paling – paling dapat dideskripsikan dengan mengatakan: corak konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berpikir dan akal sehat (rational thinking), berperasaan (emoting), dan berperilaku (acting), serta berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperilaku dan berperasaan. Maka, orang yang mengalami gangguan dalam alam perasaannya, harus dibantu untuk meninjau kembali caranya berpikir dan memanfaatkan akal sehat.
Pelopor dan sekaligus promotor utama corak konseling ini adalah “Albert Ellis” (1913-2007), yang telah menerbitkan banyak karangan dan buku antara lain buku yang berjudul Reason and Emotion in Psychotherapy (1962),  A new Guide to Rational Living (1975), serta karangan yang berjudul   The Rational-Emotive Approach to Counseling  dalam buku Burks Theories of Counseling (1979). Menurut pengakuan Ellis sendiri, corak konseling Rational-Emotive Therapy (disingkat RET) berasal dari aliran pendekatan Kognitif-Behavioristik. Teorinya mempunyai kemiripan dengan terapi kognitif Aaron Beck (yang dirumuskan secara terpisah pada waktu hampir bersamaan) dan terapi mood baru David Burns. Para ahli psikologis klinis sering mengkhususkan diri dalam bidang konseling perkawinan dan keluarga. Pada mulanya Ellis mendapat pendidikan dalam pengalaman prakteknya ia merasa kurang meyakini psikoanalisa yang dianggap ortodoks. Oleh karena itu berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya dalam teori belajar behavioral, kemudian ia mengembangkan suatu pendekatan sendiri yang disebut Rational Emotive Therapy (RET) atau terapi rasional emotif.


B.     KONSEP POKOK
Ellis memandang bahwa manusia itu bersifat rasional dan juga irasional orang berperilaku dalam cara-cara tertentu karena ia percaya bahwa ia harus bertindak dalam cara itu. Orang mempunyai derajat yang tinggi dalam sugestibilitas dan emosionalitas yang negatif (seperti kecemasan, rasa berdosa, permusuhan, dan sebagainya). Masalah-masalah emosional terletak dalam berpikir yang tidak logis. Dengan mengoptimalkan kekuatan intelektualnya, seseorang dapat membebankan dirinya dari gangguan emosional. Para penganut teori RET percaya bahwa tidak ada orang yang disalahkan dalam segala sesuatu yang dilakukannya, tetapi setiap orang bertanggung jawab akan semua perilakunya. Ellis percaya bahwa manusia mempnyai kepedulian diri dan  kepedulian sosial. Bagaimanapun juga, RET juga menganggap manusia “rasional dan irasional, masuk akal sekaligus gila, menurut Ellis dualitas tersebut tertanam secara biologis dan berkelanjutan sampai cara berpikir yang baru dipelajari.(Dryden, 1994)(dikutip dari buku: Samuel T Gladding, Konseling Profesi yang menyeluruh, 2012 Jakarta: indeks. Hal 266). Pikiran irasional, atau seperti yang didefinisikan oleh Ellis, keyakinan irasional (iBs), melibatkan pembentukan pikiran yang mengganggu dan menjengkelkan.
Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah. Menurut Ellis, pikiran dan emosi merupakan dua hal yang saling tumpang tindih, dan dalam prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intrinsik. Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengaruhi pikiran. Pikiran seseorang dapat menjadi emosinya, dan emosi dalam keadaan tertentu dapat berubah menjadi pikiran.
Pandangan yang penting dari teori rasional-emotif adalah konsep bahwa banyak perilakuemosional individu yang berpangkal pada “selftalk” atau “omong diri” atau internalisasi kalimat-kalimat, yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif. Adanya orang-orang seperti itu, menurut Ellis adalah karena:
a)      Terlalu bodoh untuk berpikir secara jelas.
b)      Orangnya cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berpikir secara jelas dalam hubungannya dengan keadaan emosi.
c)      Orangnya cerdas cudan cukup berpengetahuan tetapi terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan secara memadai.
Meskipun Ellis tidak membahas tahap perkembangan individu, dia berpendapat bahwa anak-anak lebih gampang terkena pengaruh dari luar dan memiliki cara berpikir yang tidak rasional daripada orang dewasa. Pada dasarnya, dia meyakini bahwa manusia itu naif, mudah disugesti, dan mudah terusik. Secara keseluruhan, orang mempunyai kemampuan di dalam dirinya sendiri untuk mengontrol pikiran, perasaan, dan tindakan, teapi perta,a-tama dia harus menyadari apa yang mereka katakan pada diri sendiri (bicara pada diri sendiri) untuk mendapatkan komando atas kehidupannya. Ini adalah masalah kesadaran pribadi. Pikiran tidak sadar tidak termasuk di dalam konsep Ellis tentang sifat manusia. Lebih jauh lagi, Ellis percaya bahwa adalah suatu kesalahan, jika orang mengevaluasi atau menilai diri sendiri melebihi gagasan bahwa semua orang adalah makhluk yang bisa berbuat salah.
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis. Salah satu teori utama mengenai kepribadian yang dikemukakan oleh Albert Elis dan para penganut Rational Emotive Therapy adalah apa yang disebut dengan konsep atau teori A-B-C-D-E. Teori ini adalah sentral dari teori dan praktek RET. Berikut adalah pemaparan singkat tentang teori ini:
   Antecedent event, Activity, or Action, or Agent (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
    Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
    Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Selain itu, Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus me­lawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psikologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional.
Sebagai contoh, “orang depresi merasa sedih dan kesepian karena dia keliru berpikir bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir”. Padahal, penampilan orang depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan menyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri sendiri.
Walaupun tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama keyakinan-keyakinan irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan tersebut adalah hasil “pengondisian filosofis”, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang muncul secara otomatis, persis seperti kebiasaan kita yang langsung mengangkat dan menjawab telepon setelah mendengarnya berdering.
Konsep teorik A-B-C-D-E mengenai kepribadian yang dikemukakan tersebut merupakan konsep utama baik dalam teori maupun dalam praktek RET serta mempunyai kaitan yang erat dengan asumsi-asumsi filosofis tentang hakikat manusia serta pandangan mengenai kepribadiannya. Kepribadian menurut Ellis pada dasarnya terdiri atas kepercayaan, konstruk, atau sikap. Apabila seseorang individu mempunyai suatu reaksi emosional pada titik C (konsekuensi emosional), setelah terjadi kegiatan atau peristiwa atau pengalaman, hal itu menyebabkan suatu sistem kepercayaan (pada titik B). A tidak menyebabkan C tetapi sistem kepercayaan yang menjadi A menyebabkan C.

C.    PROSES KONSELING
Tugas konselor menurut Ellis adalah membantu individu yang tidak bahagia dan menghadapi hambatan, untuk menunjukkan bahwa:
a)      Kesulitannya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak logis.
b)      Usaha memperbaikinya adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. Konselor yang efektif akan membantu klien untuk mengubah pikiran, perasaan, dan perilaku yang tidak logis.
Tujuan utama terapi rasional-emotif adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi diri mereka merupakan sumber gangguan emosionalnya. Kemudian membantu klien agar memperbaiki cara berpikir, merasa, dan berperilaku, sehingga ia tidak lagi mengalami gangguan emosional di masa yang akan datang.
Melalui proses ini, RET membantu orang belajar bagaimana mengenali suatu anatomi emosional yaitu mempelajari bagaimana perasaan terkait dengan pikiran. Pikiran mengenai suatu pengalaman dapat dikarakteristikan dalam empat cara: positif, negatif, netral, dan kombinasi.

D.    TUJUAN KONSELING RASIONAL-EMOTIF
Berdasarkan pandangan dan asumsi tentang hakekat manusia dan kepribadiannya serta konsep-konsep teoritik dan RET, tujuan utama konseling rasional-emotif adalah sebagai berikut:
1)      Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan self actualization-nya seoptimal mungkin melalui perilaku kognitif dan afektif yang positif.
2)      Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti: rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, rasa was-was, rasa marah, sebagai konseling dari cara berpikir dan sistem keyakinan yang keliru dengan jalan melatih dan mengajar klien untuk menghadap kenyataan-kenyataan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan, nilai-nilai dan kemampuan diri sendiri.
Tujuan utama RET berfokus pada membantu orang untuk menyadari bahwa mereka dapat hidup lebih rasional dan produktif. RET membantu klien agar berhenti membuat tuntutan dan merasa kesal melalui “kekacauan”. Klien dalam RET dapat mengekspresikan beberapa perasaan negatif, tetapi tujuan utamanya adalah membantu klien agar tidak memberikan tanggapan emosional yang selayaknya terhadap suatu peristiwa (Weinrach et al., 2001)(dikutip dari buku: Samuel T Gladding, Konseling Profesi yang Menyeluruh, 2012 Jakarta: Indeks. Hal 267).
Tujuan lain dari RET adalah mebantu orang mengubah kebiasaan berpikir atau bertingkah laku yang menghancurkan diri sendiri. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan mengajarkan model A-B-C-D-E dari RET kepada klien:
A         berarti mengaktifkan pengalaman;
B         mewakili pendapat orang mengenai pengalaman tersebut;
C         adalah reaksi emosional terhadap B;
D         adalah menjauhkan pemikiran irasional, biasanya dengan bantuan konselor RET, dan menggantikannya dengan
E         pemikiran yang efektif dan filosofi pribadi baru yang akan membantu klien mencapai kepuasan hidup yang lebih besar (Ellis, 2008)(dikutip dari buku; dikutip dari buku: Samuel T Gladding, Konseling Profesi yang Menyeluruh, 2012 Jakarta: Indeks. Hal 267).

Secara lebih khusus Ellis menyebutkan bahwa dengan terapi rasional-emotif akan tercapai pribadi yang dikenal dengan:
1)      Minat kepada diri sendiri
2)      Minat sosial
3)      Pengarahan diri
4)      Toleransi terhadap pihak lain
5)      Fleksibelitas
6)      Menerima ketidakpastian
7)      Komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya
8)      Berpikir ilmiah
9)      Penerimaan diri
10)  Berani mengambil resiko
11)  “non utopianism” yaitu menerima kenyataan (Mohamad Surya, Teori-Teori Konseling, 2003 Bandung: Daftar Pustaka. Hal 21).
Sebagai suatu bentuk hubungan yang bersifat membantu (helping relationship), terapi rasional-emotif mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a.       Aktif-direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling atau terapeutik, terapis/konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
b.      Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk harus berfokus pada aspek kognitif ari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
c.       Emotif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk juga harus melihat aspek emotif klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
d.      Behavioristik, artinya bahwa hubungan yang dibentuk harus menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan peilaku dalam diri klien.
e.       Kondisional, artinya bahwa hubungan dalam terapi rasional emotif dilakukan dengan membuat kondisi-kondisi tertentu terhadap klien melalui teknik kondisioning untuk mencapai tujuan terapi konseling.
Konseling rasional-emotif secara esensial pada dasarnya merupakan proses terapeutik behaviorrral yang aktif-direktif serta mementingkan aspek kognitif, dengan intensitas hubungan antara konselor dan klien agak kurang. Konseling rasional-emotif juga merupakan suatu “proses edukatif”, sehingga peranan konselor yang utama adalah mengajar klien mengenai cara-cara memahami dan merubah diri. Albert Ellis memberikan gambaran tentang apa yang dapat dilakukan oleh seseorang praktisi rasional-emotif yaitu:
a.       Mengajak, mendorong klien untuk menanggalkan ide-ide irasional yang mendasari gangguan emosional dan perilaku.
b.      Menantang klien dengan berbagai ide yang valid dan rasional.
c.       Menunjukkan kepada klien azas ilogis dalam berpikirnya.
d.      Menggunakan analisi logis untuk mengurangi keyakinan-keyakinan irasional (irrational beliefs) klien.
e.       Menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan irasional adalah “inoperative” dan bahwa hal ini pasti senantiasa mengarahkan klien pada gangguan-gangguan behavioral dan emosional.
f.       Menggunakan absurdity dan humor untuk menantang irasionalitas pemikiran klien.
g.      Menjelaskan kepada klien bagaimana ide-ide yang irasional ini dapat ditempatkan kembali atau disubstitusikan kepada ide-ide rasional yang harus secara empirik melatarbelakangi kehidupannya.
h.      Mengajar klien bagaimana mengalikasikan pendekatan-pendekatan ilmiah, obyektif dan logis dalam berpikir dan selanjutnya melatih diri klien untuk mengobservasi dan menghayati sendiri bahwa ide-ide irasional dan deduksi-deduksi hanya akan membantu perkembangan perilaku dan perasaan-perasaan yang dapat menghambat perkembangan dirinya.

E.     TEKNIK-TEKNIK TERAPI
Terapi rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Berikut ini akan dikemukakan beberapa macam teknik (Mohamad Surya, Teori-Teori Konseling, 2003 Bandung: Daftar Pustaka. Hal 23-25)
1.      Teknik-Teknik Emotif (afektif):
a.       Teknik Assertive Training, yaitu teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara terus menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku tertentu yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
b.      Teknik sosiodrama, yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu drama yang didramatisasikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya seniri secara lisan, tulisan ataupun melalui gerakan-gerakan dramatis.
c.       Teknik “self-modelling” atau “diri sebagai model” yakni teknik yang digunakan untuk meminta klien agar “berjani” atau mengadakan “komitmen” dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu. Dalam self-modelling ini klien diminta untuk tetap setia pada janjinya dan secara terus menerus menghindarkan dirinya dari perilaku negatif.
d.      Teknik imitasi, yaitu teknik yang digunakan dimana klien diminta untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif.
2.      Teknik-Teknik Behavioristik
Dalam banyak hal, konseling rasional-emotif banyak menggunakan teknik terapi behavioral terutama dalam upaya memodifikasi perilaku-perilaku negatif dari klien dengan mengubah akar-akar keyakinannya yang tak rasional dan tak logis. Beberapa teknik yang tergolong behavioristik adalah:
a.       Teknik Reinforcement (penguatan), yakni teknik yang digunakan untuk mendorong klien kearah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian (reward) ataupun punishment (hukuman). Bila perilaku klien mengalami kemajuan dalam arti positif, maka ia dipuji “baik” bila mundur dalam arti masih negatif, maka dikatakan “tidak baik”. Teknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan padanya.
b.      Teknik Social Modelling (pemodelan sosial), yakni teknik yang digunakan untuk memberikan perilaku-perilaku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu moel sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (peniruan), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dengan model sosial yang dibuat itu. Dalam teknik ini, konselor mencoba mengamati bagaimana proses klien mempersepsi, menyesuaikan dirinya dan menginternalisasi norma-norma dalam model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor atau terapis.
c.       Teknik Live Models (model dari kehidupan nyata), yang digunakan untuk menggambarkan perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dengan memecahkan masalah-masalah.

3.      Teknik-Teknik Kognitif
Teknik-teknik konseling atau terapi berdasarkan perkataan kognitif memegang peran utama dalam konseling rasional-emotif. Teknik-teknik ini digunakan dengan maksud untuk mengubah sistem keyakinan yang irasioal klien serta perilaku-perilakunya yang negatif. Dengan teknik ini klien didorong dan dimodifikasi aspek kognitifnya agar dapat berpikir dengan cara yang rasional dan logis sehingga klien dapat bertindak atau berperilaku sesuai sistem nilai yang diharapkan baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungannya.
Beberapa teknik kognitif yang cukup dikenal adalah:
-        Home Work Assignments (pemberian tugas rumah). Dalam teknik ini, klien diberikan tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri serta menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. Dengan tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide serta perasaan-perasaan yang irasional dan ilogis dalam situasi-situasi tertentu, mempraktekkan respons-respons tertentu, berkonfrontasi dengan verbalisasi diri yang mendahului, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Selanjutnya, pelaksanaan Home Work Assignment yang diberikan konselor dilaporkan terhadap klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor di kantor, disekolah, atau ditempat lain. Teknik ini sebenarnya dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap bertanggung jawab, kepercayaan diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien serta mengurangi ketergantungannya kepada konselor atau terapis.
-        Teknik Assertive. Teknik ini digunakan untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui; role playing atau bermain peran, rehearsal atau latihan, dan social modelling atau meniru model-model sosial. John L. Shelton (1977) mengemukakan bahwa maksud utama teknik Assertive Training adalah untuk:
a)      Mendorong kemampuan klien mengekspresikan seluruh hal yang berhubungan dengan emosinya,
b)      Membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusihi hak asasi orang lain,
c)      Mendorong kepercayaan kepada kemampuan diri sendiri,
d)     Meningkatkan kemampuan untuk memilih perilaku-perilaku assertive yang cocok untuk dirinya sendiri (Mohamad Surya, Teori-Teori Konseling, 2003 Bandung: Daftar Pustaka. Hal 25-26).
Dalam mengaplikasi berbagai teknik konseling rasional-emotif, Albert Ellis menganjurkan untuk menggunakan den menggabungkan beberapa teknik tertentu sesuai dengan permasalahn yang dihadapi klien. Hanya Ellis menyarankan agar teknik Home Work Assignment perlu digunakan sebagai syarat utama untuk sesuatu terapi atau konseling yang tuntas.

Selanjutnya dikatakan oleh Ellis bahwa meskipun pada mulanya terapi rasional-emotif dimaksudkan untuk mendorong individu yang mengalami gangguan, akan tetapi dapat pula digunakan untuk membantu orang dalam mengurangi kecemasan dan permusuhan serta berguna untuk membantu mewujudkan diri individu. Bagi para konselor sekolah, terapi rasional-emotif akan sangat membantu krena pada dasarnya terapi rasional-emotif lebih menggunakan model edukatif daripada model psikodinamik atau model demik. Dengan demikian para konselor sekolah dapat menggunakannya bagi siswa-siswa normal di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA
§  Surya. Mohamad, Teori-Teori Konseling, 2003 Bandung: Daftar Pustaka
§  Winkel.WS, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, 1997, Jakarta: PT. Grasindo
§  Gladding. T Samuel, Konseling Profesi yang menyeluruh, 2012 Jakarta: indeks